Mengenang Andie Peci: Belajar soal pengorganisiran dan solidaritas

Selamat jalan, Cak Andie Peci. Selamat beristirahat di tempat yang baru, semoga tenang di sana. Jasa dan perjuanganmu akan senantiasa dikenang.

Kabar kepergian Andie Peci tentu mengejutkan banyak pihak. Beliau adalah seorang suporter yang sangat jarang ditemui. 


Ada dua hal yang selalu teringat ketika membicarakan sosok Andie Peci: soal pengorganisiran dan solidaritas.


Terkait pengorganisiran, sudah menjadi rahasia umum bagaimana pria yang memiliki ciri khas kerap memakai peci ini mampu menciptakan sebuah gerakan dan mengorganisir massa untuk melakukan perlawanan. 


Hal ini terlihat jelas dari bagaimana beliau melakukan konsolidasi yang begitu besar demi merebut kembali hak konstitusional klub kebanggaannya, Persebaya Surabaya, yang sempat dibekukan oleh federasi sepak bola nasional. 


Perjuangan tersebut berhasil. Padahal, pihak yang dilawan saat itu adalah elite federasi yang memiliki kekuasaan dan modal (baca: uang). 


Tentu itu bukan pekerjaan yang mudah, namun Andie Peci beserta kawan-kawan suporter mampu membuktikannya.


Peristiwa itu menjadi bukti nyata bahwa suporter memiliki kekuatan gerakan yang luar biasa andai mampu terorganisir dengan baik. 


Pengorganisiran inilah yang sebenarnya menjadi pekerjaan rumah besar bagi suporter sepak bola saat ini. 


Apalagi, sekarang banyak bermunculan subkultur suporter di Indonesia yang tentunya berisiko menimbulkan perpecahan. 


Lihat saat ini, di dalam internal pendukung satu klub pun biasanya ada dua subkultur, bahkan lebih. Sebut saja mania, ultras dan casuals.


Namun, jangan sampai perbedaan subkultur ini memicu perpecahan antar suporter dan memicu hilangnya rasa solidaritas.


Terkait solidaritas, tentu masih membekas di ingatan, bagaimana Andie Peci beberapa kali menginisiasi gerakan solidaritas antarsuporter.


Sebagai basis massa yang besar, suporter memiliki pengaruh kuat di dalam dan luar lapangan. 


Solidaritas yang digagas melampaui batas rivalitas kelompok suporter. Lihat bagaimana apa yang dilakukan Andie Peci pasca Tragedi Kanjuruhan: membantu para korban yang notabene Aremania untuk mendapatkan haknya.


Pernah terpikirkan atau tidak? Bagaimana hari ini perasaan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, termasuk yang berasal dari Blitar. 3 tahun lebih tragedi berlalu apakah mereka sudah mendapatkan keadilan?


Bayangkan apabila antarsuporter solid dan memiliki keberpihakan terhadap orang-orang yang lemah dan mereka yang tidak mendapatkan keadilan alias jadi korban.


Andaikan solidaritas terhadap mereka yang lemah muncul, tentu dapat dibayangkan betapa besarnya dampak bagi kelompok masyarakat yang sedang mengalami penderitaan, misalnya para penyintas Tragedi Kanjuruhan.


Kehadiran dan bantuan dari basis massa suporter tentu akan sangat meringankan beban mereka, minimal secara moril.


Lebih jauh lagi, aspek soliditas juga menyangkut tentang prinsip bahwa bahwa nyawa berada di atas sepak bola. 


Pascatragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022, kita disadarkan kembali bahwa nilai kemanusiaan harus diutamakan, terutama di hari-hari ini saat sepak bola telah menjelma menjadi sebuah industri. 


Jangan sampai komersialisasi dan industrialisasi sepak bola mengorbankan nyawa manusia. Ini harus menjadi pembelajaran bersama bagi kita semua.


Jangan sampai rivalitas yang ada antar-klub maupun antarsuporter berujung pada hilangnya nyawa seseorang. 


Bagaimanapun, kemanusiaan berada di atas segala-galanya dan nyawa harus ditempatkan di atas sepak bola. 


Jangan sampai hanya karena sebuah pertandingan sepak bola, harus ada nyawa yang melayang. 


Kita juga berharap kejadian di Blitar pada Februari 2020 silam tidak terulang kembali, di mana kerusuhan antarsuporter sempat pecah.


Sekali lagi, selamat jalan, Cak. Semoga tenang di sana. Jasa, perjuangan, dan pengorbananmu akan selalu dikenang.

Posting Komentar

0 Komentar