Saya bertekad untuk mencoba lebih rutin mengisi blog ini — berbagi cerita, berbagi pengalaman — yang siapa tahu bisa memberikan manfaat bagi para pembaca sekaligus menjadi arsip kenangan yang berharga.
Tentu ini bukan perjalanan yang mudah. Namun begitulah namanya pengalaman: selalu ada sisi baik dan buruknya.
Untuk tulisan hari ini, saya ingin berbagi tentang syukur. Saya selalu teringat dengan apa yang kerap disampaikan oleh Gus Baha.
Beliau menekankan bahwa kita jangan mudah-mudah melihat nikmat yang diberikan Tuhan kepada orang lain.
Sebab, ketika kita terlalu sering memandang nikmat orang lain, sementara hati kita belum siap, yang muncul justru perasaan iri dan dengki, sifat-sifat tercela yang tidak membawa kebaikan sedikit pun. Ini bukan perkara gampang, terlebih di era seperti sekarang.
Dulu, sebelum media sosial ada, kita melihat nikmat orang lain hanya secara langsung dan terbatas. Namun hari ini, begitu membuka media sosial, kita langsung disuguhi berbagai macam konten: ada yang bermutu, ada yang toksik, dan tidak sedikit yang isinya pamer kenikmatan — mulai dari harta, perjalanan, hingga kehidupan pribadi yang dikemas sedemikian rupa.
Di sinilah Filosofi Teras (Stoikisme) memberikan perspektif yang relevan: nikmat yang diterima orang lain berada di luar kendali kita. Kita tidak bisa berbuat banyak soal itu.
Maka, daripada menghabiskan energi untuk merasa iri, lebih baik kita turut bangga dan ikut senang ketika orang lain mendapat kebaikan sambil tetap berikhtiar untuk diri sendiri. Karena sejatinya, standar kenikmatan setiap orang itu berbeda-beda.
Orang kaya pun masih terus mengejar lebih banyak. Sementara ada orang yang hidupnya sederhana, tetapi sudah merasa cukup dan bahagia.
Inilah yang membuat rasa syukur itu menjadi mahal nilainya, sebab ia tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, melainkan oleh seberapa legowo hati kita menerima kenyataan.
Di era media sosial ini, bersyukur bukan hanya soal tidak iri terhadap orang lain. Ada sisi lain yang tidak kalah penting: tidak mudah pamer. Tidak semua hal perlu diunggah ke Instagram Story, TikTok, atau platform mana pun.
Bukan berarti kita harus bersembunyi dari dunia, tetapi karena tidak semua yang kita miliki layak untuk dipublikasikan, terutama yang menyangkut kehidupan pribadi. Siapa tahu, justru ada dampak buruk yang tidak kita sadari dari kebiasaan mempertontonkan segalanya.
Siapa yang mampu bersyukur, yang bisa legowo dan lapang dada menerima kenyataan, dialah yang benar-benar bisa menikmati hidupnya.
Dan menurut saya, itulah kemewahan sesungguhnya di zaman ini, bukan seberapa banyak yang kita punya, melainkan seberapa damai kita dengan apa yang sudah ada.

0 Komentar