3 gagasan mengejutkan dari 'Madilog', karya agung Tan Malaka yang ditulis diam-diam di bawah ancaman kempeitai

gagasan mengejutkan dari 'Madilog', karya agung Tan Malaka yang ditulis diam-diam di bawah ancaman kempeitai
Pendahuluan: Sebuah Buku yang Lahir dari Pelarian

Tan Malaka adalah figur legendaris dalam sejarah Indonesia, dan karyanya, Madilog, adalah salah satu naskah paling berpengaruh yang pernah ditulisnya. 


Namun, di balik gagasan-gagasan radikal yang menantang cara berpikir bangsanya, terdapat kisah penciptaan yang tak kalah dramatis. 


Buku ini tidak lahir di ruang kerja yang nyaman, melainkan ditulis dalam sunyi dan penuh bahaya selama masa pendudukan Jepang, di sebuah pondok sederhana di pinggiran Jakarta. 


Artikel ini akan mengungkap tiga gagasan paling mengejutkan dan berdampak dari Madilog, sebuah mahakarya yang lahir dari pelarian, yang relevansinya terasa hingga hari ini.


1. Seorang Revolusioner Sejati Membawa Perpustakaannya di Dalam Kepala

Karena statusnya sebagai buronan politik selama lebih dari 20 tahun, Tan Malaka harus rela berulang kali kehilangan aset paling berharganya: koleksi buku. 


Perpustakaannya yang ia kumpulkan dengan susah payah lenyap di berbagai negara. Di Shanghai, koleksinya hilang saat perang Tiongkok-Jepang meletus. 


Di Amoy, pustaka barunya terpaksa ditinggalkan saat tentara Jepang masuk. Kisah paling dramatis terjadi di Singapura; untuk menghindari pemeriksaan Kempeitai, ia terpaksa menyembunyikan buku Capital karya Karl Marx di dalam sebuah tebat (empang). 


Kehilangan-kehilangan ini bukan sekadar kemalangan, melainkan katalisator yang memaksanya mengembangkan sebuah bentuk pengetahuan yang mustahil untuk disita.


Sebagai solusi, Tan Malaka menciptakan sebuah sistem brilian yang ia sebut "jembatan keledai". Ini bukanlah sekadar alat bantu ingatan biasa; ia adalah sebuah epistemologi terstruktur yang lahir dari keterdesakan, dirancang untuk menyimpan inti sari dari ratusan buku dan pengetahuan penting di dalam otaknya. 


Ia mengubah konsep-konsep kompleks menjadi rangkaian huruf atau kata unik yang hanya ia pahami. Contohnya, formula seperti "AFIAGUMMI" untuk menganalisis kekuatan negara atau "ONIFMAABYCI AIUDGALOG" untuk menyimpan teori ekonomi. 


Dengan sistem ini, perpustakaan fisiknya bisa dirampas, tetapi perpustakaan mentalnya selalu aman bersamanya.


Metode ini menunjukkan disiplin dan kecerdasan luar biasa, namun lebih dari itu, ia mencerminkan filosofi hidup seorang revolusioner sejati. 


Bagi Tan Malaka, seorang pelarian politik harus seringan mungkin, bebas dari ikatan benda lahir (seperti buku) maupun batin (keluarga), agar siap bergerak setiap saat. 


Dengan metode ini, pengetahuan bertransformasi dari sekadar kepemilikan yang bisa dirampas menjadi bagian tak terpisahkan dari diri—sebuah senjata intelektual yang sesungguhnya.


2. Musuh Terbesar Bangsa Bukan Sekadar Penjajah, Melainkan "Logika Mistika"

Dalam sebuah diagnosis tajam atas zamannya, Tan Malaka berargumen bahwa masyarakat Indonesia masih "gelap gulita, diselimuti matjam-matjam ilmu kegaiban". 


Ia mengidentifikasi salah satu hambatan terbesar kemajuan bangsa adalah cara berpikir yang ia sebut "Logika Mystika", yaitu cara berpikir yang mendahulukan roh atau gaib di atas materi dan bukti nyata. 


Sebagai contoh, ia mengutip mitos Dewa Rah dari Mesir kuno yang konon menciptakan dunia hanya dengan mengucapkan firman "Ptah". Menurut logika ini, dunia lahir dari perintah gaib, bukan dari proses material yang dapat dibuktikan.


Sebagai antitesis, Tan Malaka menyodorkan "Ilmu Pasti" atau sains. Ia menggunakan hukum-hukum fundamental seperti Hukum Evolusi Darwin, Hukum Kekekalan Energi Joule, dan Hukum Susunan Tetap Dalton untuk membuktikan bahwa alam semesta bekerja berdasarkan hukum materi yang nyata, dapat diukur, dan dapat dibuktikan. 


Alam, menurutnya, tidak bekerja berdasarkan perintah gaib sesaat, melainkan melalui proses panjang dan hukum sebab-akibat yang logis. Perjuangan melawan Logika Mistika ini ia anggap sebagai fondasi untuk membangun bangsa yang modern dan merdeka.


Betapa mendesaknya masalah ini baginya tergambar dalam sebuah anekdot. Ketika ia baru tiba di Jakarta, ia segera mendatangi toko buku Belanda terbesar di Hindia Belanda untuk mencari buku tentang logika. Hasilnya nihil. Tak ada satu pun buku tentang "undang berpikir" yang dijual. 


Gagasan ini begitu radikal pada zamannya karena ia berani mengalihkan fokus perjuangan: musuh terbesar bukan hanya penjajah dari luar (kolonialisme), tetapi juga musuh dari dalam yang lebih mendasar, yaitu cara berpikir yang tidak logis, tidak ilmiah, dan terbelenggu oleh takhayul.


3. "Madilog" Lahir di Bawah Dengungan Pesawat Tempur dan Intaian Polisi Rahasia

Kisah di balik penulisan Madilog adalah sebuah drama yang menunjukkan keteguhan baja penulisnya. Naskah ini ditulis di sebuah pondok sederhana di Rawajati, dekat Kalibata, Jakarta, dalam rentang waktu delapan bulan, dari 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943. 


Dalam kondisi serba terbatas, Tan Malaka mendedikasikan sekitar 720 jam—rata-rata tiga jam setiap hari—untuk menuangkan gagasannya. Ini bukanlah kondisi steril seorang akademisi, melainkan kancah pembakaran seorang revolusioner—dan urgensi inilah yang tertanam dalam DNA Madilog.


Bahaya selalu mengintai. Polisi rahasia Jepang, Kempeitai, sudah dua kali datang memeriksa dan menggeledah pondok tempat tinggalnya. Namun, naskah Madilog selalu selamat. 


Menurut Tan Malaka, naskah itu aman karena "huruf Madilog... terlampau ketjil dan ditaruh ditempat jang tiada mengambil perhatian sama sekali". Ia menyembunyikan tulisan-tulisannya di tempat yang paling tidak mencurigakan, melindunginya dari mata tajam para interogator.


Suasana mencekam saat penulisan tergambar jelas dalam salah satu kalimatnya yang paling kuat, yang melukiskan kondisi kerja yang mustahil bagi kebanyakan orang:

"Pena merayap diatas kertas dekat Tjililitan, dibawah sajapnja pesawat Djepang jang setiap hari mendengungkan ketjorobohannja diatas pondok saja."


Setelah selesai ditulis, perjalanan naskah Madilog belum berakhir. Ia ikut "bersembunyi" bersama pengarangnya ke Banten dan bahkan hampir hilang saat Tan Malaka ditangkap di Surabaya. 


Baru tiga tahun setelah kelahirannya yang penuh gejolak, Madilog akhirnya memperkenalkan dirinya, bukan kepada sembarang orang, melainkan kepada mereka yang menurut Tan Malaka "sudah mendapat minimum latihan otak, berhati lapang dan seksama serta achirnja berkemauan keras buat memahamkannja".


Kesimpulan: Pertanyaan Abadi dari Sang Bapak Republik

Tiga gagasan ini—perpustakaan mental seorang revolusioner, perang melawan logika mistik sebagai prasyarat kemerdekaan, dan proses kreatif yang menantang maut—menunjukkan kedalaman pemikiran Tan Malaka. 


Madilog lebih dari sekadar buku; ia adalah senjata intelektual yang ditempa dalam api perjuangan, dirancang untuk membebaskan pikiran sebelum membebaskan sebuah bangsa.


Tan Malaka menulis Madilog untuk mempersenjatai sebuah generasi dengan logika. Di era banjir disinformasi, seruannya menjadi lebih relevan dari sebelumnya. 


Ia memerangi "logika mistika" takhayul feodal. Tidakkah kita hari ini menghadapi versi modernnya dalam bentuk ruang gema yang dikendalikan algoritma, teori konspirasi viral yang menentang bukti, dan pemujaan buta terhadap figur ketimbang prinsip? 


Seruan Tan Malaka bukanlah sekadar untuk berpikir, melainkan untuk menempa perkakas intelektual yang diperlukan demi kemerdekaan sejati—sebuah panggilan yang justru menggema lebih mendesak di tengah zaman kita yang hiruk pikuk.

Posting Komentar

0 Komentar