Dulu, setiap kali mendapat informasi atau ide sekecil apa pun, tangan ini langsung bergerak menuangkannya dalam tulisan, di blog atau di kertas mana pun yang tersedia.
Bukan karena terpaksa, tapi karena menulis adalah cara saya berbicara kepada diri sendiri di masa depan: "Nanti kalau butuh, tinggal buka."
Namun hari ini kenyataannya berbeda. Medium yang paling dominan digunakan adalah audio-visual. Orang lebih memilih menonton daripada membaca. Lebih memilih mendengar daripada menelusuri paragraf. Dan saya pun, mau tidak mau, ikut terseret ke dalam arus itu.
Belum lagi tantangan yang menjadi makanan sehari-hari: kecerdasan buatan. Banyak pekerjaan yang dulu dilakukan manusia kini mulai tergantikan, termasuk menulis.
AI hadir dengan kemampuan yang terus berkembang begitu cepat sehingga setiap hari saya merasa perlu belajar agar tidak tertinggal. Ada semacam tekanan diam-diam — jika tidak mengikuti, akan tersisih.
Tapi di sinilah letak paradoksnya. Semakin sering saya menggunakan AI untuk menulis, semakin saya sadar: ada sesuatu yang hilang.
Ketika yang menulis adalah robot, tulisan itu memang rapi, cepat, dan efisien. Namun tulisan yang lahir dari jari manusia — dari proses mengetik perlahan atau bahkan goresan tangan di atas kertas — membawa rasa yang berbeda.
Ada emosi yang terselip di antara kalimat. Ada keragu-raguan yang justru membuat tulisan itu jujur. Ada kemanusiaan yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma.
Itulah yang mahal. Bukan kecepatan, bukan kesempurnaan tata bahasa — melainkan keaslian rasa dari penulisnya.
Saya menyadari, penulis yang masih setia pada mesin ketik, tulisan tangan, atau proses manual lainnya semakin berkurang. Ini bukan salah siapa-siapa. Zaman memang sudah bergerak ke arah ini.
Namun saya tetap yakin: budaya menulis tidak akan pernah benar-benar mati.
Dibandingkan foto atau video, tulisan memiliki kedalaman tersendiri. Ia memaksa pembacanya berpikir, bukan sekadar melihat.
Ia memberi ruang imajinasi yang tidak diberikan oleh gambar mana pun. Dan bagi saya pribadi, tulisan masih memiliki tempat yang tidak tergantikan — termasuk di blog ini, yang sudah empat bulan ini saya biarkan sunyi.
Mungkin inilah saatnya untuk kembali.

0 Komentar