Singapura yang Meng-Eropakan Diri

Akhir bulan Januari lalu saya berkesempatan mengunjungi negara yang (katanya) salah satu negara maju di Asia. Meskipun hanya 17 jam berada disana, kiranya cukup melihat gambaran negara yang luasnya tidak lebih dari luas Jakarta. Ketika masih duduk di bangku SMP saya diajarkan bahwa terdapat tiga negara maju di kawasan Asia : Korea Selatan, Jepang, dan tentunya Singapura.

First impression ketika mendaratkan kaki di Bandara Changi adakah biasa-biasa saja. Ya maklum, soalnya saya sudah membaca beberapa literatur tentang negara ini. Jadi tidak terkejut dengan hal-hal yang saya temukan disana. Banyak ditemukan orang-orang asing yang berada di Singapura.

Waktu itu karena hanya sekadar transit, saya dan kolega memutuskan untuk tidur di dalam bandara. Kami tidak sendiri, banyak orang dari negara lain yang juga melakukan hal serupa. Dinginnya malam hanya bisa saya tutupi dengan jaket. Pikir-pikir terlalu banyak muatan apabila membawa selimut atau bahkan sleeping bag.

Kami tidur tidak terlalu lama, hanya sekitar 5 jam. Setelah itu melaksanakan sholat subuh. Ngomong-ngomong, Indonesia dan Singapura mempunyai selisih waktu 1 jam dengan Indonesia bagian barat (WIB). Semisal di Indonesia pukul 2 maka di Singapura pukul 3. Habis melakukan sembahyang kami menyantap roti yang sengaja dibawa dari Indonesia. Tidak usah tanya rotinya apa. Hitung-hitungan, di bandara serba mahal.

Masih ada 12 jam sebelum kami terbang ke Bangkok. Untungnya, salah satu kolega mempunyai teman yang tinggal di Singapura. Jadi tidak perlu susah-susah untuk mencari tenaga pemandu. Saya ingat betul namanya adalah Marx. Untuk keluar area bandara, pertama-tama harus melewati imigrasi.

Setelah berjalan mengitari bandara yang teramat luas. Akhirnya kami menaiki sky train untuk menuju terminal yang lain. Maklum pak, bandaranya luas sekali. Tujuan kami adalah naik MRT. Untuk menuju tempat yang ikonik di Singapura, yaitu : Marina Bay.

Ongkos naik MRT lumayan murah, nampaknya hal ini yang menyebabkan warga Singapura betah naik moda transportasi ini. Dari terminal 3 Bandara Changi sampai Marina Bay dikenakan biaya 3,6 dolar Singapura. Kalau dirupiahkan sekitar 36 ribu. MRT selalu ada 3 menit sekali. Jadi, tidak perlu menunggu terlalu lama.

Saat berada di dalam MRT, pemandangan Singapura terlihat jelas. Mulai dari kota yang tertata rapi, jalanan yang sepi, hingga daerahnya yang bersih. Sesuatu yang tidak saya temukan di negara sendiri. Oo iya, jarak antara stasiun satu dengan yang lain tidak terlalu jauh. Selain itu ada rute-rutenya sendiri. Tetapi untungnya di dalam MRT terdapat petunjuk yang jelas. Sehingga kami tidak perlu khawatir.

Hari-hari itu kaki terlalu sering menginjakkan kaki di escalator maupun lift. Setelah lebih dari setengah jam perjalanan akhirnya MRT sampai di stasiun yang berdekatan dengan Marina Bay. Untuk menuju Marina Bay, kami memutuskan untuk berjalan kaki. Meskipun ada taksi yang berkeliaran. Lagi, hitung-hitungan biar hemat. Selain itu juga nikmat rasanya menikmati bersihnya kota yang jauh dari polusi. Jalan raya disana ibarat jalan tol di Indonesia.

Kaki lumayan letih untuk terus berjalan dan membawa barang bawaan yang berat. 3/4 perjalanan kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menyeruput air mineral. Hari itu cuaca sangat panas.

Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya sampai juga di Marina Bay. Tempat yang dahulu hanya bisa disaksikan di layar kaca. Sebagai kenang-kenangan tak elok rasanya kalau tidak mengabadikan momen di tempat tersebut. Orang-orang yang berfoto disana ramainya seperti pada saat terjadi pasar tumpah. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal kami harus mengantri dengan orang lain. Di tempat itu saya bisa menemukan orang dari berbagai penjuru dunia.

Karena panas yang begitu terik membuat energi kami cepat terkuras habis. Oleh karena itu segera bergegas untuk mengganjal perut. Berhubung lokasi restoran cukup jauh. Jadi kami memutuskan untuk naik taxi menuju restoran. Perjalanan menuju restoran sangat lancar tiada hambatan.

Sesampainya di restoran saya memesan nasi dan ayam serta minuman jus untuk mengganjal perut yang telah kosong. Rasa makanannya tidak terlalu jauh dengan masakan yang ada di Indonesia. Sembari menghadap ke luar terlihat jelas suasana jalan raya di Singapura. Sekali lagi jalan raya ibarat jalan tol.

Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Berhubung waktu keberangkatan pesawat semakin dekat, kami memutuskan untuk kembali ke bandara dengan moda transportasi yang sama : MRT. Ternyata lokasi stasiun MRT sangat dekat dengan restoran tempat kami makan siang. Yang spesial dari MRT di Singapura adalah hampir semua jalur maupun stasiunnya berada di bawah tanah. Sampai terdapat tiga lantai di dalam tanah. Terus, instalasi listrik di Singapura juga rapi. Jadi, sangat menarik ketika memandang jalanan yang ada disana.

Sesampainya di Bandara Changi, tidak pas rasanya tanpa datang ke sebuah tempat yang diberi nama Jewel. Sebuah tempat dengan pesona air terjun buatan yang sangat indah. Memang bandara ini menyediakan apa saja yang kita mau. Mulai dari tempat hiburan hingga tempat makan. Gerai-gerai Starbucks, KFC, sangat mudah ditemukan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, saatnya kami beranjak dari tempat duduk menuju kabin pesawat untuk perjalanan menuju Bangkok Thailand. Selamat jalan negara yang ramah bagi sesama tetapi tidak ramah terhadap kantong. Selamat jalan MRT yang bikin kagum orang yang masih awam. Sampai jumpa, semoga dapat datang kembali meskipun hanya sebentar.

Posting Komentar

0 Komentar