Profesionalisme Jurnalis di Tengah Gempuran Arus Informasi

Profesionalisme Jurnalis di Tengah Gempuran Arus Informasi
Arus informasi begitu bebas berkembang tanpa kendali. Semua orang bisa leluasa menyampaikan informasi, di mana pun tempatnya dan kapanpun waktunya. Tidak terkecuali informasi yang bersifat pemberitaan kepada khalayak publik.

Gempuran arus informasi yang tidak terkendali membuat perbedaan antara produk jurnalistik dan informasi biasa menjadi tipis. Orang awam akan kesulitan untuk membedakannya.

Begitu juga dengan seorang jurnalis. Orang akan kesulitan membedakan antara jurnalis dan warganet yang biasa menyampaikan informasi melalui media sosial mereka masing-masing.

Tidak ketinggalan terkait media yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Masyarakat juga bakal bingung semakin beragamnya medium yang digunakan untuk menyampaikan berita. Ada yang lewat produk cetak (koran, majalah, buletin), media daring, radio dan televisi.

Pada zaman yang seperti ini, di mana informasi begitu mudah untuk dibuat dan disebarkan, peran jurnalis menjadi pertaruhan. Jurnalis terjebak dalam dua pilihan, memilih untuk mengikuti arus atau membuat arus sendiri.

Mengikuti arus maksudnya melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh warganet seperti pada umumnya. Ingin memberikan informasi yang cepat dan tidak ribet, serta mengenyampingkan aspek jurnalistik.

Sementara, apabila membuat arus sendiri, jurnalis harus mengenyampingkan aspek cepat dan tidak ribet. Meskipun juga ada jurnalis yang bisa mengedepankan aspek cepat dan tidak ribet tanpa merusak kaidah jurnalistik.

Saat informasi begitu gampang untuk diproduksi dan disebarkan, jurnalis harus bisa menjadi seorang yang tetap teguh menjalankan prinsip jurnalisme. Kode etik jurnalistik pun juga harus dipahami dengan baik.

Sebagai contoh, saat terjadi sebuah kecelakaan di sebuah wilayah. Seorang jurnalis jangan sampai asal membagikan begitu saja video atau foto yang didapatkan, lalu memberikan keterangan telah terjadi kecelakaan di sebuah wilayah.

Seorang jurnalis punya kewajiban untuk memastikan kebenaran kecelakaan tersebut. Jurnalis bisa menanyakan kepada orang setempat, atau menanyakan ke pihak berwenang, misalnya kepolisian.

Selain itu, ada pula budaya butuk yang sering terjadi di media nasional, yakni mencomot video yang sedang ramai di media sosial. Meskipun sudah izin ataupun hanya sekadar mencantumkan sumber, selayaknya hal seperti itu harus dibarengi dengan konfirmasi kepada pihak terkait untuk memastikan sebuah peristiwa.

Ujian lain yang harus siap dihadapi oleh jurnalis saat ini adalah tawaran dari pihak-pihak tertentu. Di titik ini Independensi seorang jurnalis saat memproduksi berita menjadi pertaruhan.

Keberadaan media sosial yang begitu masif membuat persoalan tersendiri. Akibatnya iklan yang biasanya mengisi media-media tempat jurnalis bekerja, kini sudah berpindah dan memenuhi beranda medsos.

Akibatnya banyak media yang harus mengurangi jumlah karyawan ataupun terpaksa mengurangi gaji jurnalis untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan media.

Jurnalis yang merasa mendapatkan upah yang kurang layak dari perusahaan terpaksa melanggar kode etik yang selama ini harus dianut. Contohnya tidak independen dalam membuat berita.

Di sinilah profesionalisme seorang jurnalis menjadi taruhan. Dia harus memilih melanggar kode etik, tapi bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari, atau menaati kode etik, tapi anak istrinya hiduo seadanya dengan gaji pas-pasan.

Maka, tidak heran saat ini sudah mulai bermunculan media berbayar di Indonesia. Tujuannya jelas, agar ekosistem jurnalisme yang sehat masih tetap berlangsung di negeri ini. Selain itu, juga tetap merawat asas kepentingan publik.

Masyarakat, dewasa ini juga tinggal memilih pilihan, mana berita yang ingin dikonsumsi dan mana yang tidak. Semakin beragamnya informasi yang disediakan, semakin rumit pula dalam menentukan pilihan.

Jangan sampai sebagai seorang jurnalis melanggar kode etik, karena akibatnya fatal. Produk jurnalistik menjadi taruhannya akibat kelakuan yang tidak perlu.

Selain itu, khalayak sebagai konsumen berita harus selektif dalam memilih beritanya. Konsumen yang cerdas adalah konsumen yang selektif.

Esai ini digunakan untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan di Surakarta, Jawa Tengah, 20-21 Maret 2023.

Posting Komentar

0 Komentar